Penulis : Riska Fitria

Terhitung sudah lebih dari satu tahun Pemilihan Umum 2024 berlalu. Berbagai strategi yang berbeda tentu dilakukan oleh ketiga paslon. Salah satunya dengan pembuatan konten, sehingga menjadi hal yang sangat dekat dengan era digital seperti saat ini khususnya bagi para gen z. Terlebih semenjak pandemi covid-19 yang membuat kehidupan berubah secara drastis menjadi serba online serta digital, mau tidak mau kita harus mengikuti perkembangan zaman.
Pembuatan konten yang awalnya hanya sebatas hiburan, kini beralih fungsi sebagai alat untuk kampanye, persuasif, serta pembentukan opini publik yang kuat. Dengan adanya fenomena tersebut, kita menjadi saksi bagaimana salah satu paslon meraih kemenangan dengan mendapat dukungan besar melalui viralitas konten. Lantas ketika pilihan hanya didasarkan oleh viralitas konten, apakah masih terdapat ruang untuk berpikir secara objektif terkait dengan substansi apa yang disampaikan atau malah tenggelam dalam ilusi viralitas?
Berdasarkan hasil investigasi terhadap voters 02, terbukti mereka tidak membaca serta memahami secara komprehensif terkait substansi dari visi-misi paslon 02. Mereka cenderung memilih karena melihat viralitas konten yang bersliweran di media sosial. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan viralitas, namun ketika hal tersebut tidak dibarengi dengan literasi yang baik terkait substansi apalagi hanya bermodal sensasi, maka dapat memicu misinformasi yang berakibat fatal terhadap keputusan memilih.
Hal lain juga diungkap oleh beberapa pihak, seperti Yasmin (mahasiswa) selaku non-voters 02. Dia menilai bahwa, “Sebagai gen z yang memilih paslon 02 dengan alasan viralitas menjadi hal yang cukup membingungkan, karena dengan kemajuan teknologi informasi ini, otomatis berbagai informasi dapat didapatkan secara mudah serta cepat, namun seringkali tidak dibarengi dengan kemampuan critical thinking yang baik”. Dia menambahkan bahwa, “Pihak pemerintah mungkin bisa membuat sebuah website terkait edukasi politik secara massif yang bisa diakses oleh semua kalangan dengan menciptakan inovasi yang menarik sehingga diharapkan dapat meningkatkan literasi politik khususnya bagi para gen z”. Ia juga menegaskan bahwa,“Substansi tetap menjadi hal yang utama, namun bagaimana cara masing-masing paslon harus memiliki strategi yang menarik agar substansi yang dinilai serius dan membosankan dapat dikemas secara menarik serta ringan agar diminati oleh semua kalangan khususnya para gen z yang dinilai tidak mau ribet”.
Pendapat lain juga diungkap oleh Arimbi selaku Jurnalis, yang mengungkapkan bahwa, “Memilih hanya bermodalkan viralitas menjadi hal yang dilematis, apalagi saat ini eranya sudah sangat digital dan informasi disebarkan secara massif. Sehingga peran yang dapat diberikan sebagai seorang jurnalis yakni menjadi corong pertama yang memberikan informasi yang valid kepada masyarakat”. Beliau juga menegaskan bahwa, “Dalam pelaksanaan kampanye substansi itu penting, tapi menjadi tidak penting ketika tujuan mereka hanya mencari suara terbanyak”.
Salah satu responden yang berasal dari aktivis juga mengungkapkan bahwa, “Mengikuti trend media social yang muncul semenjak pandemi covid-19 karena disitu terdapat percepatan peningkatan fungsi dari teknologi yang pada akhirnya itu dijadikan sebagai senjata bagi orang-orang yang berkepentingan”. Ia menilai bahwa kebanyakan orang zaman sekarang khususnya gen z kurang menggali informasi yang seharusnya substantif, tapi mereka justru hanya memikirkan dengan kuantitatif saja. Jadi ketika ramai, maka hal itu dianggap benar, padahal tidak semua seperti itu. Ia juga menegaskan bahwa, “Utamakan saring sebelum sharing, baca terlebih dahulu serta mencari tahu terkait regulasi, fakta serta sejarahnya. Sehingga walaupun saat ini berbagai kebijakan sedang direvisi, namun harus tetap membaca dari berbagai literatur”.
Diakhir liputan, kami juga mewawancarai dari sudut pandang akademisi yakni Mba Esthi Maharani, S.S., M.I.P. selaku Dosen Ilmu Komunikasi Untidar. Beliau mengatakan bahwa, “Setiap paslon tentu memiliki strategi yang berbeda-beda. Namun strategi yang dilakukan oleh paslon 02 memang sudah terlihat dengan sasaran para gen z. Karena gen z ini terlihat memiliki karakteristik tersendiri yang unik sehingga pihak 02 tentu memiliki tim khusus yang berupa konsultan politik yang mendesain bagaimana agar gen z memiliki simpati untuk memilih paslon 02. Karakteristik gen z yang dinilai santai, ringan dan tidak menyukai hal berat serta dapat dicerna secara mudah (sederhana). Sehingga banyak strategi kampanye mereka yang menggunakan AI, kartun, karikatur dan joget-joget. Hal tersebut tentu menjadi cara untuk menggaet simapti gen z”.
Beliau juga menyoroti bahwa, “Dalam urusan bernegara harus melalui hal yang pahit, jadi bukan hanya bermodal ini lucu dan merepresentasikan anak muda. Sehingga startegi tersebut dinilai menyasar hanya sampai permukaan saja tanpa melihat substansi yang seharusnya di highlight. Jika dinilai dari politik, tim 02 dianggap berhasil karena apa yang mereka bahasakan mampu menyasar para gen z”. Beliau juga menegaskan jika gen z memilih hanya berdasarkan viralitas tanpa memperhatikan substantif, maka itu akan menjadi hal yang berbahaya karena yang dibahas hanya sampai permukaan saja atau istilahnya bedakan saja tanpa memahami apa yang terjadi sebenarnya”.
Bagaimanapun juga kita tidak bisa mengabaikan kekuatan dari sebuah viralitas di era digital seperti saat ini. Namun juga harus dibarengi dengan kemampuan literasi serta berpikir yang matang dan komprehensif. Sehingga dengan viralitas bisa menjadi pintu masuk untuk ruang diskusi yang mendalam, bukan hanya sebagai akhir dari perjalanan demokrasi.
Sudah seharusnya sebagai warga negara khususnya gen z ini memiliki tanggung jawab yang tidak hanya sebagai konsumen pasif informasi, tapi dituntut untuk bisa secara aktif serta kritis dalam menerima informasi. Jangan sampai terjebak dalam sebuah ilusi viralitas, lalu menyesal bahwa setalah memilih ternyata tidak ada substansi yang benar-benar dibutuhkan.







